Sejarah Desa


Kata Kaligede berasal dari kali yang berarti sungai dan gede dari kata sumber gede yang berarti ‘’mata air besar’’, sehingga kata kaligede berarti sungai dari mata air yang besar. Untuk mengetahui asal usul Desa Kaligede, berikut hasil wawancara kami dengan salah seorang sesepuh Desa Kaligede
MASA SEBELUM TERBENTUKNYA DESA KALIGEDE
Menurut cerita orang tua, legenda dari mulut ke mulut, dan digali dari cerita rakyat, menurut cerita dari Mbah H. Abdul Qodir (sekretaris desa tahun 1954-1979) yang mendapat cerita dari Mbah Tirto Sentono (kepala desa tahun 1938-1978) sekitar tahun 1525 M di Kerajaan Demak terjadi perang saudara, yaitu antara Adipati Pajang Hadiwijaya dengan Adipati Jipang Arya Penangsang. Arya Penansang gugur dalam peperangan yang tidak seimbang itu. Patih (penasihat) Adipati Jipang, Ki Ageng Sumbal mendengar junjungannya, Adipati Arya Penansang itu gugur. Ki Ageng Sumbal meminta izin pada gurunya yaitu Sunan Kalijaga akan bertapa di Sungai Opak di bawah pohon. Tujuannya adalah ingin membalas kematian junjungannya, Arya Penangsang, akan tetapi sang guru tak mengizinkannya. Akan tetapi setelah itu, Ki Ageng Sumbal diutus gurunya untuk bertapa di wilayah timur (Jawa Timur). Ki Ageng Sumbal diutus menyusul gurunya yang tak lain adalah Sunan Kalijaga di wilayah Tuban Selatan, tepatnya di lereng Gunung Gong atau utara Gunung Kikik.
Ki Ageng Sumbal telah ditunggu di tempat pertapaan dan Ki Ageng Sumbal pun diutus untuk mencari ciri-ciri pertapaan tersebut, yaitu ada pohon jati yang rindang dan besar, di bawahnya ada mata air yang besar, di sebelahnya ada batu yang besar dan lebar. Akhirnya Ki Ageng Sumbal menemukan tempat yang dimaksud. Di sana sudah ada Sunan Kalijaga sudah ada di tempat pertapaan. Ki Ageng Sumbal pun diutus bertapa (mengasingkan diri) selama 4 bulan 44 hari. Setelah bertapa, Ki Ageng Sumbal diutus menebangi hutan yang masih rimba. Tempat pertapaan Ki Ageng Sumbal itulah akhirnya disebut DUNG DALEM.
MASA TERBENTUKNYA DESA KALIGEDE
Desa Kaligede bernama asli Dung Dalem. Dung berasal dari kata kedung yang berarti dalam dan kata dalem yang berarti rumah. Jadi Dung Dalem artinya adalah dalam rumah, maksudnya dalam rumah atau tempat bertapa (gubuk) Ki Ageng Sumbal.
Pada waktu itu, Dung Dalem masih berupa hutan belukar serta banyak dihuni oleh makhluk halus seperti dedemit, jin, perayangan dan peri, kemamang dan banaspati, gondoruwo yang begasaan dan lain sebagainya.
Atas utusan sang guru, hutan ini pun ditebang oleh Ki Ageng Sumbal dan keluarganya kira-kira pada tahun 1525 M atau mulai ditebang pada hari Rabu tanggal 1 Suro 935 H atau tanggal 10 Juli 1525 M.
Ki Ageng Sumbal masih keluarga dekat dengan Ki Buyut Janjang. Nama asli Ki Ageng Sumbal adalah Syaikh Abu Jalil, putra dari Raden Taha bin Kusuma Hadiningrat (Pangeran Penghulu) Bejagung Kidul bin Brawijaya IV (empat). Pangeran Penghulu merupakan menantu Sunan Bjagung Tuban (Abdullah Asy’ari). Syaikh Abu Jalil dijuluki Ki Ageng Sumbal oleh masyarakat karena Syaikh Abu Jalil bisa menyumbat mata air besar dengan duk.
Konon di Dung Dalem, ada sebuah pohon jati raksasa atau pohon jati yang sangat besar, di bawahnya terdapat sumber mata air yang besar juga. Untuk menghindari pada waktu musim penghujan tidak banjir besar, ngrapak kemana-mana (disebut krapakan) dan supaya tidak mengganggu pertanian, akhirnya sumber mata air tersebut disumbat oleh Ki Ageng Sumbal dengan duk.
Akhirnya penduduk desa tersebut makin lama makin banyak.Ki Ageng Sumbal pun dipilih masyarakat untuk dijadikan pemimpin. Di bawah pimpinan Ki Ageng Sumbal, masyarakat menjadi makmur, gemah ripah lohjinawi, tentrem toto raharjo, dan bisa menanam padi dengan aman karena sudah tidak dilanda banjir lagi.
Dari aliran mata air Dung Dalem, air mengalir ke sawahdan melintas di tengah-tengah kampung masyarakat. Air dari Dung Dalem ini makin lama makin besar lalu membentuk sungai kecil. Ki Ageng Sumbal menyampaikan sebuah ucapan pendeta pada ratu: ‘’besuk yen ana rejane zaman Dung Dalem iki tak jenakno kaligede’’.
Desa Dung Dalem diresmikan oleh Ki Ageng Sumbal menjadi Desa Kaligede pada hari Kamis Kliwon tanggal 10 Suro 945 H atau 15 Juli 1537 M.

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)