22 Januari 2020 09:15:28
Ditulis oleh Admin

Sejarah Desa Kaligede

Kaligede merupakan salah satu dari dua belas desa yang ada di kecamatan Senori yang terletak diperbatasan kabupaten Bojonegoro.

Desa Kaligede menurut legenda dari mulut ke mulut dan di gali dari cerita rakyat, Kaligede aslinya DUNG DALEM (Dung dari kata Kedung) artinya dalam. (Dalem artinya rumah). Jadi dung dalem artinya dalam rumah, maksudnya dalam rumah (gubah) Ki Ageng Sumbal, Dung Dalem yang masih berupa hutan belukar, A kisi dedemit, Jin Perayangan dan Peri, Kemaurang dan Banaspati, Gondoruwo yang begasaan dan lain sebagainya. Hutan ini di babat oleh seorang bernama Ki Ageng Sumbal dan keluarganya, diperkirakan pada tahun + 1501 masehi. Ki Ageng Sumbal masih keturunan dari Ki Buyut Janjang. Di Dung Dalem Ki Ageng Sumbal membuat gubuk kecil sederhana untuk penghuni sementara dengan keluarganya. Di Dung Dalem ada sebuah ada sebuah pohon jati raksasa atau pohon jati yang besar, di bawah pohon jati yang besar, sebesar dandang untuk memasak. Untuk menghindari pada waktu musim penghujan tidak banjir besar ngrapak kemana-mana disebut (Krapakan) supaya tidak menganggu pertanian, akhirnya sumber mata air disumbat oleh Ki Ageng Sumbal dengan Ijuk.

Penduduknya makin lama makin banyak, Ki Ageng sumbal dipilih oleh masyarakat dijadikan tokoh/ pemimpin.

Pimpinan Ki Ageng Sumbal masyarakat menjadi makmur gemah ripah loh jinawe tentrem toto raharjo, bisa menanam palawija, padi dan sebagainya karena sudah tidak dilanda banjir lagi.

Dari aliran mata air Dung Dalem yang mengalir ke sawah melintasi di tengah-tengah kampung masyarakat. Aliran mata air dari Dung Dalem makin lama makin besar terus membentuk sungai (Kali) Ki Ageng Sumbal ngadarake sabda pendataneng ratu, besok rek ono rejone zaman Dung Dalem tak jenakno Desa Kaligede. Nama Desa Kaligede dari kata kali yang artinya sungai dan Gede dari kata sumber gede (mata air besar), sehingga kata kaligede berarti kali dari sumber gede (sungai dari mata air yang besar).

Ki Ageng Sumbal pergi topo broto sampai akhir hayat. Sebelum pergi topo broto, pimpinan diserahkan kepada anaknya yang tua bernama Ki Buyut Sandi sampai mati. Dilanjutkan oleh Ki Buyut Bojo dan seterusnya.


Kategori
comments powered by Disqus